Mamad mempunyai seorang anak laki2. Namanya Zaid. Sebenarnya Zaid ini cuma anak angkat, tapi karena sejak kecil dia diperlakukan bak anak kandung oleh Mamad, Zaid pun gak sadar akan status sebenarnya.
Bahkan setelah Zaid dewasa, Mamad mencarikan jodoh lalu menikahkan anaknya itu dg seorang wanita berparas cantik bernama Zainab. Zaid pun lalu memboyong istrinya itu tinggal serumah dengan dia dan Babehnya, Mamad.
2 taon berlalu, Zaid dan Zainab dikaruniai anak laki2, yg oleh Mamad kakeknya, diberi nama Alley Shatree. Mamad sangat bahagia dg kehadiran cucunya ini.
Seperti pagi2 sebelumnya, begitu bangun pagi, Kakek Mamad langsung beranjak dari kamarnya ke depan kamar si Zaid, hendak menimang cucu. Tapi pagi itu dia terkejut mendapati pintu kamar itu tertutup. "Aaalleeeeeyyy...???" panggil Mamad sambil mengetuk perlahan. "Alley nya lagi nenen, Kek!" sahut Zainab dari dalam. Mamad mulai ngiler. Otaknya yg cap Kepala Kelinci (play boy) bekerja cepat. "Lho babehnya si Alley mana, Nab?" tanya Mamad lagi. "Udah berangkat dari tadi setelah shalat subuh, Beh!"
Merasa mendapat kes4an emas, Mamad masuk setengah paksa dan langsung menatap dalam2 cucunya yg lagi netek, plus tetek si Zaenab yg montok. Sambil nahan liur, tangan Mamad cepet2 menutup kembali pintu kamar tsb dari dalam. "Lho Beh, koq ditutup seh? Gak enak lho sama para pembantu..." protes Zainab. "Kasian si Alley, Nab, nanti masuk angin." tukas Mamad gak mo kalah diplomasi, sambil beringsut duduk di pinggir ranjang kian merapat ke Zainab yg masih menyusui anaknya. "Duilleee... makin cakep aje cucuku ini..." siasat Mamad meredakan rasa kikuk Zainab, sambil mencolek pipi si Alley. Tak lupa nyenggol tetek Zainab ala qadar nya. "Persis emak lo..." Gile! Kali ini giliran pipi si Zainab yg dicolek.
Dasar wanita, bukannya risih malah serasa melayang disanjung dedengkot, hilang kewaspadaan. "Aaahh... Babeh bise aje deh!" suara Zainab lirih sambil tertunduk beberapa saat. Kesempatan ini gak di-sia2in Mamat. Secepat kilat dan setengah maksa, mulut si Alley dilepas dari tetek emaknya, ganti Mamad yg nenen sekarang!
Tiba2 "Plaaakkk!!" Pipi Mamad ditampar Zainab. "Dasar tua2 keladi! Udah bau tanah gak tau diri! Awas lo ya, gue ngadu ame laki gue ntar!" teriak Zainab. Para pembantu serta tetangga malah berdatangan ingin tau apa yg terjadi. Mamad pun ngacir kembali ke kamarnya, ngumpet.
Tak lama kemudian, Zaid pulang. Didapatinya anak bininya sedang nangis. "Lho ada apa ini?" tanya Zaid, tapi gak dijawab ama Zainab. Zaid balik tanyain anaknya: "Nape nangis kamu, Ley?" "Huuu... huuu...Tetek emak bau jigong, Beh! Huuuu..." lapor Alley sambil nangis. Setelah mampu kendalikan emosi, Zainab pun melaporkan semuanya kepada suaminya. Tak lupa diberi bumbu penyedap. Zaid pun berang, lalu angkat parang! Pintu kamar Mamad di-gedor2. "Keluar kau, Beh! Kelakuan Babeh persis binatang! Dasar orang tua keparat! Tak tau diri! Cepat keluar biar kupancung palamu, Beeehh!" teriak Zaid histeris.
Sadar kepepet, dari dalam kamarnya Mamad pun berkelit dg manisnya: "Relax, Man... tenang! Kasi gue kes4an! Sekarang coba lu nanya ke bini elo! Selama ini berapa kali gue mimi ame die? Baru sekali, Man! Se...ka...li...! Tapi elo ributnya sekampung! Sekarang coba jawab gue! Berapa kali elo mimi ame bini gue, hah? Jawab!"
This 3 years old girl is dancing for money. The dancing is not like any children dance. It's more like erotic dance. And the last, some "bid brithers" took her. It child slavery!
Akhirnya terbongkar juga tipuan muslim tentang cerita ke mualaf an Natalie Sarah, sebelum ini banya beredar cerita karangan muslim tentang latar belakang Natalie Sarah menjadi muslim.
Ada cerita tentang mimpi Natalie Sarah yang katanya ketemu seorang kakek tua dalam mimpi di tahun 2001, yang menyuruh dia membaca Al Fathihah, ada cerita tentang hidayah yang didapat oleh Natalie Sarah pada tahun 2003 ketika mengikuti pengajian di tempat si raja tipu, AA Gym.
Padahal cerita sebenernya adalah gara-garanya Natalie Sarah di hamili oleh seorang mahasiswa muslim yang kuliah di Unisba Bandung bernama Dian Rahmat Ginanjar, mereka menikah tahun 2000 secara Islam, jadi sebenernya Natalie sudah Islam sejak tahun 2000.
Tausiah K.H. Abdullah Gymnastiar di Pondok Pesantren Daarut Tauhid yang menyejukkan membuka pintu hatinya untuk mendalami Islam.
Siapa tak kenal artis sinetron Natalie Sarah? Artis pendatang baru yang namanya mencuat lewat sinetron Kawin Gantung itu, di tengah kesibukan shooting-nya, masih menyempatkan diri mengikuti pengajian artis di Jemaah Syamsu Rizal. Artis berdarah Aceh dan Sunda ini memang mualaf, belum lama menjadi muslimah. Sebelum main sinetron, ia sudah lama berkiprah di dunia model. Kariernya ia tempuh dari bawah, mulai dari model dalam pameran busana dan sebagai cover majalah remaja, kemudian menjadi figuran dalam sebuah sinetron remaja. Selain Doa dan Anugrah 2, sinetron lain yang ia dukung, antara lain, Cintaku di Rumah Susun, Kawin Gantung, dan Dari Temen Jadi Demen produksi Multivision Plus. Meski lahir dan dibesarkan dalam keluarga Aceh-Sunda, tidak berarti ia cukup dekat dengan suasana dan kehidupan yang Islami. Sebab, orangtuanya beragama Kristen. Maka bisa dimaklumi jika hidayah Allah SWT yang ia terima melalui proses yang cukup panjang. Hidayah itu mulai menyentuh hatinya sekitar empat tahun lalu, ketika ia berusia 18 tahun. Ia lahir 1 Desember 1983 di Bandung. Ketika itu, pada suatu malam, ia bermimpi bertemu seorang kakek berjubah putih yang mengajaknya membaca surah Al-Fatihah. Sejak itu hatinya mulai bergolak. Timbul semacam pergulatan batin untuk mulai mendekati Islam. Namun, ketika itu ia sama sekali tidak mengenal ajaran Islam. Bahkan makna Al-Fatihah pun ia tidak tahu. “Saya sama sekali tidak tahu makna Al-Fatihah, walaupun ketika di SD saya sering mendengar teman-teman membacanya. Setelah bertanya kepada teman-teman apa makna mimpi tersebut, saya diberi kitab Al-Quran terjemahan. Saya lalu mempelajarinya,” tuturnya. Namun, karena keluarganya termasuk sangat taat beragama Kristen, sangat sulit bagi mereka untuk menerima jika salah seorang anggota keluarga memeluk agama lain. Meski begitu, tekad Natalie Sarah sudah bulat – ia sudah mantap untuk memeluk Islam. “Sebelum mengucapkan dua kalimah syahadat, saya sudah memikirkan bakal jadi urusan keluarga. Ternyata benar. Dan semua mualaf ternyata memang mengalami hal seperti itu,” tuturnya lagi. Sarah mendapatkan hidayah Islam di usia yang masih muda, sekitar 18 tahun. Saat itu, rumah tangga orangtuanya di ambang perceraian. Khawatir kehilangan sandaran hidup, ia berusaha mencari pegangan hidup sendiri. Alhamdulillah, ia bertemu seorang sahabat yang kerap mengikuti pengajian di Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, asuhan K.H. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Maka ia pun ikut sang sahabat mengaji di sana.
Elu Ngapain? Mengikuti kehidupan Islami, praktik ibadah yang khusyuk dan tausiah Aa Gym yang sejuk di Daarut Tauhid, membawanya menemukan Islam, yang damai. Islam, yang mengajarkan tata cara menata hati, bertolak belakang dengan pemahaman sebelumnya seolah Islam itu keras dan garang. “Soalnya selama ini saya sering mendengar ceramah-ceramah para ustaz yang selalu mendiskreditkan agama tertentu,” katanya. Bahkan pada hari pertama mengikuti tausiah Aa Gym, air matanya sempat menitik. “Ketika itu ada acara bagi para jemaah untuk kembali kepada diri kita sendiri dengan cara merenung. Di situlah, malam itu, saya benar-benar mengenal diri saya sendiri. Dan saya menangis,” katanya lagi. Tapi, ia sengaja hadir usai salat Isya. Mengapa? Pertama, ia khawatir teman-temannya memergokinya. “Saya takut teman-teman yang tahu saya non-muslim pada teriak, ‘Sarah elu ngapain? Bukan muslim kok ada di sini?’.” Selain itu, ia kan belum bisa salat. Jadi, ia sengaja datang ketika semua jemaah sudah menunaikan salat. Setelah yakin dengan kebenaran Islam, Natalie, yang ketika itu masih duduk di kelas III SMA, pada bulan Juli 2001 memutuskan menjadi seorang muslimah. Namun, hal itu ia lakukan secara sembunyi-sembunyi – takut ketahuan oleh keluarganya. Seperti mualaf yang lain, ia juga takut bakal diusir oleh keluarga dari rumah, dijauhi teman-teman dan saudaranya. Memang cukup banyak cobaan yang ia hadapi. Namun, ia tetap berusaha menghadapinya dengan sabar. “Sejak saya menjadi muslimah, sedikit demi sedikit komunitas dan pergaulan saya berubah,” tuturnya. Untuk menghindari keluarganya itulah, setelah lulus SMA ia hijrah ke Jakarta menemani ibunya, Nurmiaty, yang sudah bercerai dengan ayahnya. “Dan di Jakarta saya benar-benar seperti ayam kehilangan induk, karena enggak punya teman sama sekali, sementara beberapa keluarga Mama sering datang ke rumah mengajak pergi beribadat ke gereja,” ujarnya. Ajakan itu ia tolak dengan halus. Berbagai alasan ia ajukan: malas, ketiduran, dan sebagainya. “Tapi, lama-lama keluarga saya curiga.” Agar tidak ketahuan sudah menjadi muslimah, Sarah mengatur siasat dengan main kucing-kucingan: setiap malam Minggu ia menginap di rumah seorang teman. Meski demikian, sesekali ia terpaksa ikut serta pergi ke gereja. Tapi, di gereja itu ia membaca doanya sendiri kepada Allah SWT. Suatu hari, ketika ikut serta ke gereja, seorang temannya bertanya, “Sar, kamu kok enggak nyanyi?” Ia segera menjawab, “Itu kan lagu baru, saya enggak hafal,” sambil terus berzikir. Main kucing-kucingan itu sempat berlangsung selama beberapa tahun. Sarah melakukan ibadah dengan sangat hati-hati, sampai-sampai kepada teman-temannya pun ia tetap mengaku sebagai seorang Kristiani. Pernah suatu ketika ibunya memeriksa tasnya, dan ketahuan ada buku panduan salat di dalamnya. Kontan ia berujar, “Buku itu milik teman yang ketinggalan, akan saya kembalikan.” Begitu pula ketika ia memasuki dunia sinetron pada 2001, semua awak sinetron menganggap dia masih Kristen. Tapi, ada beberapa teman yang belakangan secara tidak langsung membocorkan bahwa dia sudah muslimah, tapi tidak mau mengaku. Setiap kali masuk waktu salat, ia menunaikannya dengan sembunyi-sembunyi – setelah semua pemain dan awak sinetron selesai salat. Hal itu berlangsung selama dua tahun, sejak 2001 hingga pertengahan 2003.
Bingung Mengubur Pada pertengahan 2003 itulah, ketika pamannya meninggal dunia, tabir mulai tersingkap. Saat itu, pamannya – yang muslim tapi juga menyembunyikan kemuslimannya seperti halnya Sarah – hampir saja dikubur dengan upacara Kristen, sampai akhirnya ditemukan identitas yang menunjukkan kemuslimannya. Dari kejadian itu Sarah seperti mendapat peringatan, terutama ketika salah seorang anggota keluarga besarnya bilang, “Makanya kalau beragama itu harus jelas. Kalau Islam ya Islam, kalau Kristen ya Kristen. Kalau seperti ini kan menguburnya pun jadinya bingung.” Namun, sampai sejauh itu, lagi-lagi, ia tak punya nyali untuk mengaku kepada keluarga besarnya sebagai seorang muslimah. Ia hanya berpesan kepada seorang sahabatnya, “Seandainya suatu saat kelak saya meninggal, tolong kuburkan saya secara Islam. Itu wasiat lisan saya, karena soal umur siapa yang tahu.” Akan tetapi, sekarang, ia sudah secara terang-terangan menyatakan diri sebagai muslimah. Ia juga sudah tidak lagi takut dihujat atau diusir oleh keluarganya. Sebab, secara ekonomi, ia sudah mapan. Apalagi, pada 2003, sebenarnya sudah tersebar berita di sebuah acara infotainment di sebuah televisi swasta bahwa ia seorang mualaf. “Untung acara itu ditayangkan pagi hari, sehingga tak banyak keluarga saya yang tahu. Namun, memasuki tahun 2004, berita bahwa saya mualaf mulai banyak tersiar, sehingga keluarganya banyak yang tahu. Tapi mereka diam saja, karena beranggapan bahwa kelak saya bakal kembali lagi, seperti halnya artis yang lainnya,” katanya. Baru pada bulan Juni 2005, keluarga besarnya heboh, ketika Sarah bermaksud menunaikan ibadah umrah. “Mereka datang ke rumah untuk menyidang saya,” kenangnya. Saat itu, Sarah sedang berpuasa sunah dan tengah sibuk shooting, sementara tekanan psikologis dari keluarga besarnya tak kunjung henti. Akhirnya ia jatuh sakit dan puasa sunahnya batal. Ia sempat pingsan sejenak, dan merasa berada di tengah lautan manusia yang sedang bertawaf. Bahkan ketika sudah sadar, bibirnya masih melafalkan Labbaikallahumma labaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wannikmata laka wal mulk. La syarikalak. “Sejak itu saya lebih rajin menabung, dan bertekad untuk menunaikan ibadah umrah secepatnya,” katanya lagi. Akhirnya, cita-citanya terkabul. Ketika hendak berangkat, Sarah menemui keluarganya untuk pamitan, dan sempat menangis. Beberapa saat menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, ia sempat berujar lirih, “Ya Allah... masa, saya tidak boleh menginjakkan kaki ini ke Tanah Suci-Mu?” Di Tanah Suci ia memanjatkan segala macam doa, antara lain agar Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya sehingga keluarga besarnya memahami kemuslimahannya. Doanya terkabul. Kini, keluarga besarnya sudah memahami pilihan Natalie Sarah memeluk Islam. Mereka bahkan menghormati pilihan itu.
Hidayah berkat Tausiah
Tausiah K.H. Abdullah Gymnastiar di Pondok Pesantren Daarut Tauhid yang menyejukkan membuka pintu hatinya untuk mendalami Islam.
Siapa tak kenal artis sinetron Natalie Sarah? Artis pendatang baru yang namanya mencuat lewat sinetron Kawin Gantung itu, di tengah kesibukan shooting-nya, masih menyempatkan diri mengikuti pengajian artis di Jemaah Syamsu Rizal. Artis berdarah Aceh dan Sunda ini memang mualaf, belum lama menjadi muslimah. Sebelum main sinetron, ia sudah lama berkiprah di dunia model. Kariernya ia tempuh dari bawah, mulai dari model dalam pameran busana dan sebagai cover majalah remaja, kemudian menjadi figuran dalam sebuah sinetron remaja. Selain Doa dan Anugrah 2, sinetron lain yang ia dukung, antara lain, Cintaku di Rumah Susun, Kawin Gantung, dan Dari Temen Jadi Demen produksi Multivision Plus. Meski lahir dan dibesarkan dalam keluarga Aceh-Sunda, tidak berarti ia cukup dekat dengan suasana dan kehidupan yang Islami. Sebab, orangtuanya beragama Kristen. Maka bisa dimaklumi jika hidayah Allah SWT yang ia terima melalui proses yang cukup panjang. Hidayah itu mulai menyentuh hatinya sekitar empat tahun lalu, ketika ia berusia 18 tahun. Ia lahir 1 Desember 1983 di Bandung. Ketika itu, pada suatu malam, ia bermimpi bertemu seorang kakek berjubah putih yang mengajaknya membaca surah Al-Fatihah. Sejak itu hatinya mulai bergolak. Timbul semacam pergulatan batin untuk mulai mendekati Islam. Namun, ketika itu ia sama sekali tidak mengenal ajaran Islam. Bahkan makna Al-Fatihah pun ia tidak tahu. “Saya sama sekali tidak tahu makna Al-Fatihah, walaupun ketika di SD saya sering mendengar teman-teman membacanya. Setelah bertanya kepada teman-teman apa makna mimpi tersebut, saya diberi kitab Al-Quran terjemahan. Saya lalu mempelajarinya,” tuturnya. Namun, karena keluarganya termasuk sangat taat beragama Kristen, sangat sulit bagi mereka untuk menerima jika salah seorang anggota keluarga memeluk agama lain. Meski begitu, tekad Natalie Sarah sudah bulat – ia sudah mantap untuk memeluk Islam. “Sebelum mengucapkan dua kalimah syahadat, saya sudah memikirkan bakal jadi urusan keluarga. Ternyata benar. Dan semua mualaf ternyata memang mengalami hal seperti itu,” tuturnya lagi. Sarah mendapatkan hidayah Islam di usia yang masih muda, sekitar 18 tahun. Saat itu, rumah tangga orangtuanya di ambang perceraian. Khawatir kehilangan sandaran hidup, ia berusaha mencari pegangan hidup sendiri. Alhamdulillah, ia bertemu seorang sahabat yang kerap mengikuti pengajian di Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, asuhan K.H. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Maka ia pun ikut sang sahabat mengaji di sana.
Elu Ngapain? Mengikuti kehidupan Islami, praktik ibadah yang khusyuk dan tausiah Aa Gym yang sejuk di Daarut Tauhid, membawanya menemukan Islam, yang damai. Islam, yang mengajarkan tata cara menata hati, bertolak belakang dengan pemahaman sebelumnya seolah Islam itu keras dan garang. “Soalnya selama ini saya sering mendengar ceramah-ceramah para ustaz yang selalu mendiskreditkan agama tertentu,” katanya. Bahkan pada hari pertama mengikuti tausiah Aa Gym, air matanya sempat menitik. “Ketika itu ada acara bagi para jemaah untuk kembali kepada diri kita sendiri dengan cara merenung. Di situlah, malam itu, saya benar-benar mengenal diri saya sendiri. Dan saya menangis,” katanya lagi. Tapi, ia sengaja hadir usai salat Isya. Mengapa? Pertama, ia khawatir teman-temannya memergokinya. “Saya takut teman-teman yang tahu saya non-muslim pada teriak, ‘Sarah elu ngapain? Bukan muslim kok ada di sini?’.” Selain itu, ia kan belum bisa salat. Jadi, ia sengaja datang ketika semua jemaah sudah menunaikan salat. Setelah yakin dengan kebenaran Islam, Natalie, yang ketika itu masih duduk di kelas III SMA, pada bulan Juli 2001 memutuskan menjadi seorang muslimah. Namun, hal itu ia lakukan secara sembunyi-sembunyi – takut ketahuan oleh keluarganya. Seperti mualaf yang lain, ia juga takut bakal diusir oleh keluarga dari rumah, dijauhi teman-teman dan saudaranya. Memang cukup banyak cobaan yang ia hadapi. Namun, ia tetap berusaha menghadapinya dengan sabar. “Sejak saya menjadi muslimah, sedikit demi sedikit komunitas dan pergaulan saya berubah,” tuturnya. Untuk menghindari keluarganya itulah, setelah lulus SMA ia hijrah ke Jakarta menemani ibunya, Nurmiaty, yang sudah bercerai dengan ayahnya. “Dan di Jakarta saya benar-benar seperti ayam kehilangan induk, karena enggak punya teman sama sekali, sementara beberapa keluarga Mama sering datang ke rumah mengajak pergi beribadat ke gereja,” ujarnya. Ajakan itu ia tolak dengan halus. Berbagai alasan ia ajukan: malas, ketiduran, dan sebagainya. “Tapi, lama-lama keluarga saya curiga.” Agar tidak ketahuan sudah menjadi muslimah, Sarah mengatur siasat dengan main kucing-kucingan: setiap malam Minggu ia menginap di rumah seorang teman. Meski demikian, sesekali ia terpaksa ikut serta pergi ke gereja. Tapi, di gereja itu ia membaca doanya sendiri kepada Allah SWT. Suatu hari, ketika ikut serta ke gereja, seorang temannya bertanya, “Sar, kamu kok enggak nyanyi?” Ia segera menjawab, “Itu kan lagu baru, saya enggak hafal,” sambil terus berzikir. Main kucing-kucingan itu sempat berlangsung selama beberapa tahun. Sarah melakukan ibadah dengan sangat hati-hati, sampai-sampai kepada teman-temannya pun ia tetap mengaku sebagai seorang Kristiani. Pernah suatu ketika ibunya memeriksa tasnya, dan ketahuan ada buku panduan salat di dalamnya. Kontan ia berujar, “Buku itu milik teman yang ketinggalan, akan saya kembalikan.” Begitu pula ketika ia memasuki dunia sinetron pada 2001, semua awak sinetron menganggap dia masih Kristen. Tapi, ada beberapa teman yang belakangan secara tidak langsung membocorkan bahwa dia sudah muslimah, tapi tidak mau mengaku. Setiap kali masuk waktu salat, ia menunaikannya dengan sembunyi-sembunyi – setelah semua pemain dan awak sinetron selesai salat. Hal itu berlangsung selama dua tahun, sejak 2001 hingga pertengahan 2003.
Bingung Mengubur Pada pertengahan 2003 itulah, ketika pamannya meninggal dunia, tabir mulai tersingkap. Saat itu, pamannya – yang muslim tapi juga menyembunyikan kemuslimannya seperti halnya Sarah – hampir saja dikubur dengan upacara Kristen, sampai akhirnya ditemukan identitas yang menunjukkan kemuslimannya. Dari kejadian itu Sarah seperti mendapat peringatan, terutama ketika salah seorang anggota keluarga besarnya bilang, “Makanya kalau beragama itu harus jelas. Kalau Islam ya Islam, kalau Kristen ya Kristen. Kalau seperti ini kan menguburnya pun jadinya bingung.” Namun, sampai sejauh itu, lagi-lagi, ia tak punya nyali untuk mengaku kepada keluarga besarnya sebagai seorang muslimah. Ia hanya berpesan kepada seorang sahabatnya, “Seandainya suatu saat kelak saya meninggal, tolong kuburkan saya secara Islam. Itu wasiat lisan saya, karena soal umur siapa yang tahu.” Akan tetapi, sekarang, ia sudah secara terang-terangan menyatakan diri sebagai muslimah. Ia juga sudah tidak lagi takut dihujat atau diusir oleh keluarganya. Sebab, secara ekonomi, ia sudah mapan. Apalagi, pada 2003, sebenarnya sudah tersebar berita di sebuah acara infotainment di sebuah televisi swasta bahwa ia seorang mualaf. “Untung acara itu ditayangkan pagi hari, sehingga tak banyak keluarga saya yang tahu. Namun, memasuki tahun 2004, berita bahwa saya mualaf mulai banyak tersiar, sehingga keluarganya banyak yang tahu. Tapi mereka diam saja, karena beranggapan bahwa kelak saya bakal kembali lagi, seperti halnya artis yang lainnya,” katanya. Baru pada bulan Juni 2005, keluarga besarnya heboh, ketika Sarah bermaksud menunaikan ibadah umrah. “Mereka datang ke rumah untuk menyidang saya,” kenangnya. Saat itu, Sarah sedang berpuasa sunah dan tengah sibuk shooting, sementara tekanan psikologis dari keluarga besarnya tak kunjung henti. Akhirnya ia jatuh sakit dan puasa sunahnya batal. Ia sempat pingsan sejenak, dan merasa berada di tengah lautan manusia yang sedang bertawaf. Bahkan ketika sudah sadar, bibirnya masih melafalkan Labbaikallahumma labaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wannikmata laka wal mulk. La syarikalak. “Sejak itu saya lebih rajin menabung, dan bertekad untuk menunaikan ibadah umrah secepatnya,” katanya lagi. Akhirnya, cita-citanya terkabul. Ketika hendak berangkat, Sarah menemui keluarganya untuk pamitan, dan sempat menangis. Beberapa saat menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, ia sempat berujar lirih, “Ya Allah... masa, saya tidak boleh menginjakkan kaki ini ke Tanah Suci-Mu?” Di Tanah Suci ia memanjatkan segala macam doa, antara lain agar Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya sehingga keluarga besarnya memahami kemuslimahannya. Doanya terkabul. Kini, keluarga besarnya sudah memahami pilihan Natalie Sarah memeluk Islam. Mereka bahkan menghormati pilihan itu.
Natalie Sarah Berikan ASI Eksklusif /Seleb TV Artikel Terkait: Natalie Sarah "Gatal" Jumat, 13/6/2008 | 07:56 WIB SETELAH diburu wartawan sejak beberapa waktu lalu, pesinetron dan presenter Natalie Sarah (23) akhirnya mengakui, sebelum menikah dengan Abdullah Rizal alias Uwok pada 6 April 2007 dia pernah berumah tangga dengan Dian Rahmat Ginanjar.
Dari pernikahan pertamanya itu Sarah memiliki seorang anak perempuan, Nadiva Morin, yang kini berusia 7 tahun. Sedangkan dari pernikahannya dengan Uwok, dia dikaruniai seorang putra, Habibie Abdul Rizal.
"Saya (sebelum dengan Uwok) memang pernah menikah dan mempunyai satu anak. Umurnya sekarang 7 tahun. Dia dilahirkan dari pernikahan pertama yang baik," kata Sarah saat ditanya wartawan di depan perumahan elit Graha Hijau 2, Kampung Utan, Ciputat, Tangerang, Kamis (12/6) siang. Sarah mengatakan, Navida kini tinggal di Bandung bersama ayahnya.
Sarah menikah dengan Dian tahun 2000. Dia melahirkan Nadiva pada 11 September 2001. Saat menikah, Sarah masih duduk di bangku SMA, sedangkan Dian masih tercatat sebagai mahasiswa Unisba, Bandung. Dua tahun kemudian, mereka bercerai.
"Proses pernikahannya baik-baik saja setelah pacaran selama tiga tahun. Kita menikah karena sama-sama suka dan sayang," kata bintang sinetron Cintaku di Rumah Susun, Kawin Gantung, dan Dari Temen Jadi Demen ini.
Perceraian itu, kata Sarah, dilandasi alasan tidak ada lagi kecocokan. "Menjalani rumah tangga ternyata tidak segampang yang kami pikirkan sebelumnya. Kami pun bercerai secara baik-baik. Mungkin karena gejolak muda, ya," ujar Sarah seraya membantah bahwa Nadiva dilahirkan di luar nikah.
Setelah bercerai, Sarah menitipkan Nadiva kepada Dian yang dianggapnya memiliki latar belakang agama lebih kuat. "Anak umur segitu kan utuh pendidikan agama yang baik," katanya.
Saat akan menikah dengan Uwok, kata Sarah, dia sudah berbicara baik-baik dengan Dian. Mantan suaminya itu pun tak keberatan. Sementara itu, keluarga besar Uwok tidak mempermasalahkan latar belakang Sarah yang pernah menikah dan telah memiliki anak. "Uwok sangat menyayangi Nadiva," ujar Sarah.
Sarah sempat memperlihatkan foto-foto Nadiva yang mulai tumbuh besar kepada pers. Selain foto dia berdua dengan Nadiva, ada pula foto Sarah-Nadiva sedang berpose dengan Uwok.
Sarah mengaku sering berhubungan dengan Navida. Biasanya, setiap liburan panjang, dia menyempatkan diri ke Bandung dan mengajak putrinya itu berlibur. "Atau aku ajakin Nadiva ke Jakarta kalau dia lagi libur sekolah. Kita suka jalan-jalan," katanya.
Walaupun jarang bertemu, Nadiva tahu Sarah adalah ibu kandungnya. Setiap kali bertemu atau menghubungi Nadiva lewat telepon, Sarah selalu mengingatkan bahwa dia adalah ibu kandungnya. "Aku selalu bilang aku ini ibunya yang akan selalu menyayanginya," ujar Sarah.
Setelah lahir Habibie yang kini berusia 4 bulan, Sarah berencana mengasuh Nadiva. "Insya Allah akan diasuh bersama-sama, tetapi nanti akan diputuskan bersama-sama dulu," ujarnya. (kin)
Yah ternyata ngakunya masuk islam ketemu kakek-kakek tahun 2001, ndak tahunya sih emang sudah islam dari tahun 2000. Dan itupun karena hamil duluan.
Yang bohong ini Nathalie sendiri atau ada si penyebar hoax dari muslim.
Jangan bilang ini pihak Amrik atau Joz lagi ye. Muak gue dengernya. Jantan dikit keq!
Credit: Thanks to fenomena atas terbongkarnya penipuan ini.
Banyak sudah aku dengarkan alasan poligami. Salah satunya adalah muslim bangga sekali dgn alasan poligami bahwa jumlah wanita itu lebih banyak di dunia ini. Kalau ndak ada yang nikahin kasihan katanya.
Yang menggelikan lagi, di FFI ada yang bangga banget mengatakan bahwa allah swt,quran dan muhammad bisa tahu akan keadaan dunia saat ini. Makanya turun ayat poligami tersebut.
Justeru ini membuat saya tertawa geli. Bukankah pernyataan mereka ini malah menjelekkan allah mereka sendiri.
Kenapa?
1. Jika allah itu maha kuasa, mengapa memerlukan manusia yang bernama pria untuk membuat jenis kelamin di dunia ini seimbang?
2. Jika allah swt itu maha kuasa, mengapa tidak membuat bayi-bayi wanita dan pria itu seimbang?
3. Pernyataan muslim tersebut membukakan ketelodoran allah swt. Karena allah swt kebanyakan "nyetak" cowoq. Mungkin keenakan bikin bayi laki-laki melulu.
4. Emangnya jika benar jumlah wanita lebih banyak dari pria, apakah semua wanita itu harus dikawin sekaligus? Apakah wanita itu ngemis2 sampai minta dikawin dan desperate gitu? (Jangan2 para ustadz kebanyakan nonton The Bachelor nih).
5. Kata siapanya wanita itu lebih banyak dari pria? Yang ade banyak jomblo cari ceweq desperate tuh. Bahkan yang udah punya bini aje masih nyari lagi...
Bilang saja poligami itu adalah perselingkuhan yang dihalalkan.
Dan gimana kalau keadaanya bahwa pria yang lebih banyak dari wnaita. Bolehkan wnaita berpoliandri menurut islam?
I awoke early in the morning on October 24, 2004 and took off my silver necklace that had the name, Allah, written on it in Arabic. It felt strange to not feel the silver plate dangling from my neck, but I knew that it was the right thing to do. As I unclasped the necklace I could feel a presence standing behind me. Even though this visitor was invisible, I knew that it was the devil. I was very scared, but at the same time felt the love and protection of God surrounding me. “Please protect me, God,” I whispered as I turned around and walked to the kitchen.
Then in one swift movement I tossed my necklace into the trashcan. A feeling of intense relief came over me and I asked God to forgive me for the past seven years of my life.
My name is Cynthia and at the age of 21 I denounced Christianity and converted to Islam. I was introduced to the Muslim faith when I was seventeen years old by my boyfriend, who is now my husband. At first I thought the religion sounded crazy, because all I had ever known was Christianity.
I would look at my husband’s mother and think that she was probably being forced to cover her hair and wear shapeless dresses that went all the way to her ankles. As the years went by I grew closer with my husband and his family. I began to love and respect his mother by watching the way she lived her life and treated others. She was one of the kindest and most moral women I had ever met. Suddenly, Islam did not seem so strange and surreal with its steadfast prayers, fasting, and rituals. I began to read the Qur’an and other Islamic material his parents would give me with gusto. Then I would sit quietly and listen as my husband’s father picked apart the Bible in an effort to convince me that Christianity was wrong. Finally, after years of being brainwashed I decided to become Muslim. I remember sitting in his parents’ bedroom with a black shawl covering my hair and converting to Islam at one o’clock in the morning.
My parents were horrified when I told them and said that they were going to pray for me. I scoffed at their remarks and then tried to convince them that Islam was the right religion. I explained to them that Jesus was just a prophet and that, Allah, was the same God worshipped by the Christians and Jews. I told them that Islam was a beautiful and peaceful religion and that anyone who believed that Jesus was the son of God was going to hell.
I began to feel so strongly about my new faith that I taught myself how to read and write Arabic and learned many Islamic prayers that I would repeat until I had them down perfectly. My entire life became obsessed with praying five times a day and adhering to all the Islamic rituals. I could not go to sleep at night if I had not prayed the last prayer of the day, because I knew that Allah would punish me if I did not.
I began to live in a constant state of fear that became worse when I, my husband, and infant son moved to Egypt with his family. After a few months of residing in Cairo, I began to cover my hair. Nobody ever forced me to do it, but I had read that I would hang from my locks in hell if I flaunted it to the world. My fear of Allah became so intense that I hoped to get cancer and therefore be punished for my sins on earth instead of after death. I would cleanse my body for prayer so obsessively, that my hands became cracked and bloody. Still, I continued to believe in a religion that on the outside looked so moral and just. There was also the fact that all of the Egyptian people I met were very humble and kind. I rationalized that these were the type of wonderful people that the Islamic faith produced. I completely blocked out the fact that I had subconsciously started to develop a tiny hatred for Jewish people by living in Cairo. This was due to comments I heard by random people as well as a shirt I saw an Egyptian man wearing one day. I will never forget the gray hooded shirt with a bloody knife stabbing through Israel detailed largely on the back. The shirt stopped me in my tracks and I think it was then that I started to question my Muslim faith.
We returned to America with a second son three years later, because I was becoming increasingly depressed living in Cairo. I thought being back in America with my family would lift my spirits, but I still felt scared and lost. I kept waiting for the inevitable to happen. When I became pregnant with our third child I thought I would most likely die in childbirth as punishment for making my husband and family leave Egypt. I truly felt that I deserved whatever Allah was going to do to me. I remember praying fervently while I was in labor begging for my life and the life of my child.
I was so happy and relieved when I left the hospital alive carrying a healthy baby girl in my arms. Life went on as usual and I continued to practice Islam unfailingly until one night my husband received a very frightening e-mail that planted a tiny seed of thought in my mind. Someone had sent him the video of Nick Berg being beheaded via the internet. Although I refused to watch the horrific sight, I could still hear Nick Berg’s deathly screams as Islamic terrorists slowly sawed his head off. Even my husband, who was born a Muslim, seemed saddened and shocked as the hooded men chanted, “Allah Akbar,” while killing poor Nick Berg. I began to cry softly for Nick Berg and the terrorists who truly thought they were doing their duty to Allah by beheading another human being. I was confused and terrified as I tried desperately to block his screams out of my mind. For the next week, I continued to pray five times a day, but instead of the word Allah I substituted God.
I figured that since I had been taught that Allah was just the Arabic word for God, it was okay. Then I did something that I told my parents and myself I would never do. I rented the movie, ‘The Passion of The Christ.’ I told my husband that I just wanted to see what all the hype was about and he agreed. We sat down that Saturday night and watched the movie together in silence. I could hardly stand to watch Jesus being beaten and whipped, but something told me to continue the movie until the end. I held back tears that threatened to fall from my eyes until the short scene in the movie when Mary Magdalene reverts back to the day when Jesus was the only person who would accept and love her. I began to cry as I suddenly realized what my mother had been trying to tell me for years. Finally, I understood that God loved me and was not out to get me or do me harm. It was also at that moment that I knew that Allah was not God. The next week I could feel the devil trying to reel me back in with his scare tactics, but I was not afraid. Finally, I felt the love and protection of God all around me. I was no longer scared to live and no longer scared to die. The world looked so beautiful and I couldn’t stop thanking God for saving me.
I honestly believe that Allah is the devil. I can open the Qur’an to any random page and read something about death and hellfire to the infidels. I had overlooked it in the past, because I was concentrating more on the rituals and basic concepts of Islam. I failed to look at the core of the religion which I feel is based on evil. I think the Islamic faith is a wolf in sheep’s clothing. To some people it looks very wholesome and good from the outside, but at the same time produces terrorists and extremists who will die trying to kill anyone who is not a Muslim. Please do not think that I feel that all Muslims are evil Satan worshippers, because this is far from the truth. Many Muslims I know are some of the kindest and loving people I have ever met. I love my husband’s family and know that their hearts’ are filled with the best intentions. I truly believe that they, along with millions of other Muslims, think that they are worshipping God. I also believe that Satan lost a soldier when he lost me. My greatest asset when I used to preach Islam to anybody that would listen, was my physical appearance. I looked so different from what most people perceived as a stereotypical Muslim. I was a twenty-eight year old, white, American, female with light hair and green eyes who was walking around praising the Islamic faith. I was such a strong contrast to what people were used to picturing when they thought of a Muslim woman. I can only pray that I never convinced anyone to convert or think of converting to Islam.
It has only been two weeks since I was saved by Jesus Christ, and they have been the happiest two weeks of my life. Everyday that I wake up I am so grateful that God never left my side during my seven year hiatus. I feel like he was just patiently waiting for my return. I now live my life with an inner peace and love for God that I cannot put into words. Thank you Jesus for never leaving me.
Sept. 11, 2001 was devastating to me. Being an American and being a Muslim at the same time left me with an overwhelming sense of grief. I didn't understand what was happening, and more importantly, I couldn't understand why. I think I was in a state of shock for the first 3 days. My Palestinian husband ordered me to dress in my Islamic dress, i.e. jilbab and hijab, and go outside. I was terrified. Little did I realize at the time, but this man was exploiting me and using me for whatever his cause was. He wanted people to see me, a Muslim woman, in the face of 'the ignorance' as sort of a way of thumbing his nose at them. I resented this. I started having doubts about Islam at that point. He pretty much had left me to study Islam on my own, of which I was relatively glad to do, as I wanted to be the best Muslim I could be because I believed sincerely that it was a peaceful religion and 'the true religion of God'. I learned to read and write Arabic, was memorizing whole chapters of Qur'an, and reading it in its entirety each month. I read and read daily the hadiths of Muhammad. The more i read, the more concerned I became. I read stories of how some would insult him or reject his teaching of Islam, and he would have them killed in their sleep or when their backs were turned. I couldn't understand why the Quran said that there is no compulsion in religion, yet at the same time they live by the law that says to kill anyone who leaves Islam. This was forced religion in my mind, no matter what you call it.
I read of how upset Aisha, his 9 year old bride, would become when Muhammad would insult her and women in general when he compared them to dogs and donkeys. When I showed my husband these hadiths, he told me, "You are trying to shake my faith, I don't want to see it", and "Maybe the Jews planted that in there".
The more I read, the more concerned I became. I searched the internet to see what people who had left Islam thought and why they thought it. I picked up the book by Ibn Warraq, Why I am Not a Muslim. I was devastated while reading it because I realized that the religion I believed to be the religion of God was a lie and was dangerous.
My husband became more aggressive towards me. He had previously prevented me from leaving numerous times. He showed up at my job to see if i was wearing hijab. He called me when i wasn't at home to ask where I was. He wanted me to go to work and come home and go nowhere else, including even the grocery store. He isolated me from my family and friends. He tried to change my personality. He spied on my email and found an email I had written and received from Nonie Darwish, another apostate. Life became unbearable eventually. I couldn't take it anymore. The day I decided to leave, April, 2004, after many attempts, he threw me in the floor, kicking me in the stomach and the head, then denied it, saying I must have tripped, that this didn't happen.
I call 2004 the year of my FREEDOM. Unfortunately, I know lots of other women who are unable, for whatever reason to leave their situation.
I am still working on my belief system. I trust the real GOD, the loving God, to show me the way.
Quran 4:34: Men are the maintainers of women because Allah has made some of them to excel others and because they spend out of their property; the good women are therefore obedient, guarding the unseen as Allah has guarded; and (as to) those on whose part you fear desertion, admonish them, and leave them alone in their sleeping places and beat them; then if they obey you, do not seek a way against them; surely Allah is High, Great.
Quran 4:34 Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
utk muslimah, kalau suami anda memukul anda, suami anda hanya menjalankan perintah quran koq. Harap dimengerti dan terima saja.
I started my blog, My No Brainer, out of sheer frustration. Even then I had to use a pseudonym to protect my little girl and I. It is shame because after all these years of wanting to be me, I am still trapped, on the outside. In the inside, I am so happy. I don't feel any more guilt as long as I don't transgress the universal principles of good and bad, epitomised by the 10 commandments. Not that I am promoting Catholicism but the 10 commandments wrap everything up in a nutshell.
My journey to liberating my soul was not sudden but the road was long and sometimes tortuous. A Catholic at birth, I was an excellent Catholic, alter boy, prayer leader youth leader and stuff like that. A few intellectual debates with the parish priest left me unimpressed and then a remark during confession by one of the other priests left me thinking and soon I left the faith.
Years later I was born again spiritually, as a Muslim. Dedication soon gave way to realities. I saw the same patterns as in Catholics - the meaningless rituals, some as absurd, if not more and worse, the intolerant side of Islam. Soon I became ashamed to be a Muslims.
I remember a discussion in class when I was studying for my 'syariah' law. The topic was apostasy, whether the death penalty applied. There were various schools of thought on this subject, of course. However, the lecturer held the view that those who had voluntarily accepted Islam will suffer the death penalty if he or she then opted to leave. This begged several questions:
- What if that person was not told of the consequences before becoming a Muslim - Those born a Muslim (do they have a choice?)
The class was dumb founded, not surprisingly, Muslims and non-Muslims alike. All in the class were not deprived of mental faculties as all were graduates of sorts. However, no one spoke up as it would have seemed un-Islamic to do so. I was no doubt the least liked student; as I usually challenged apparently ludricous inconsistencies.
During the years when I was a Muslim, I tried to be a good one. Dutifully learnt to read the Qur'an, although I did not understood what I was reading, like most non-Arabic speaker. We recited parrot like. I became community leader as they 'liked' me. Deep inside, I was troubled, very troubled. I sensed something was missing. I made two trips for 'umrah' and then the 'hajj'. It was an eye opener, a real awakening.
We read or heard of many romantic and mystical tales from other pilgrims. No pictures taking was allowed so you could only use your imagination. When there, what I saw was a huge stone cube in the middle of a large mosque (the Sacred Mosque) covered in black cloth. The black cloth, changed yearly, could be bought for a few hundred dollars upwards, depending on the size. People hang these on their walls for blessings. Much sought after were that part of the cloth with gold (real gold thread) Arabic scripts of the 'holy' word 'Allah'. Only kings and the privileged can enter the 'Ka'aba' to pray inside.
Chivalry was dead for the 'Tawaaf' ritual, circling the cube seven times, anti-clockwise. It was every man/woman for himself. Jostling, shoving, trampling on each others toes to get to kiss the black stone. For the less adventurous or less able bodied, flying kiss from afar will do, if you are contented with getting less blessings.
In fact, blessings can be counted, the quantum varies. Prayers at the two sacred mosque, the other one being in Medina next to the tomb of the Prophet, carry a thousand fold more. Even more if you had stayed eight days at Medina and performed the mandatory prayers 40 times consecutively. On Thursday nights and Fridays carry additional blessings too. To die on Friday is a big honour (so try to time your death).
Surrounding the Sacred Mosque were luxury hotels and shopping malls with moving walkways like at the airports. There were also fast-food outlets like KFC. In between prayers people went on shopping sprees, especially gold jewellery and carpets. The less financially endowed can avail themselves to cheaper digs further down the road about a mile away and shop at the numerous stalls outside the luxury hotels and malls. A trip to the dates market must not be missed, to buy the premium black dates favoured by the Prophet. Extra blessings and of course extra prices.
During the' hajj' season prices quadrupled. Hotels rooms usually costing US$50 would skyrocket to US$200, same for taxi fares, everything. Supply/demand economics was very much alive there.
Those that did not speak Arabic can avail themselves, for a fee of course, to one of those 'mutawwifs', guides that lead in you in prayers, etc. You get to visit the historical sites and were encouraged to say a little prayer to the dead heroes. Since you get extra blessings if you say them in Arabic, bearded old men would appear to say them for you and while not requested, a tip is expected at the end of these prayers.
The 'sa'ie', jogging between the two mounds, 'Safar' and 'Mawar' was done in air-conditioned comfort as the route is enclosed with a roof, walls on each side complete giant air-conditions and blowers.
During the 'hajj' it was compulsory to reside in Mina before the stoning of the devil. Our' tour operator' did not get us any accommodation there so everyday we would pile into an air-conditioned coach, drive into Mina and the bus would parked by the roadside to clock up the mandatory hours.
During the stoning ceremony, to be completed within a time frame and extra blessings at certain times, chivalry was dead too. People trampled on each other to get there first. People had died at these times. Sometimes crowd controlled failed and pilgrims were pushed over the elevated road down 50 feet below or trampled to death.
To accommodate the millions who had to perform this task the Saudis built an elevated concrete road around the pillars representing the devils. So you can stone from above or below. While this was on excavators would be busy scooping the small stones that pilgrims had thrown, on to trucks to clear them. To those above, it seemed a miracle that the holes did not full up.
In Arafah, the plains where the Prophet had his farewell sermon, we camped for the required hours before setting out to Mina. The rich can opt for the luxury air-conditioned tents, complete with sumptuous buffet spread.
On the day of the 'hajj' millions of lambs were slaughtered as sacrifice. Before they had thought of freezing the meat and giving to the poor, they were burnt.
During certain times of the 'hajj' you can't kill anything, including insects that crept your way. You cannot shave nor shed body hairs, no sex, plus lots of little things you can't do which I can't remember. Women took pills to stop menstruating as it would invalidate their 'hajj' and weeks of preparation and money would have been wasted.
My personal life is quite complicated. Some part of it resembled that of a Greek tragedy which you would find in a Shakespearean play. My spiritual journey to enlightenment had been long and convoluted, sometimes marked by tragedies. The periods I spend in the 'dark ages' and the long journey to spiritual freedom, free from mental bondage in the name of God, must be for a reason.
Some of my friends who left Islam and joined Christianity, were jailed until 'repentance'. Whether they really 'repented' was a matter of debate, perhaps just to gain their freedom from jail. I may suffer the same fate if I am 'outed' and if so, I am prepared to rot in prison or to die as an 'apostate'. People may take my body but not my soul.
This is very sad state of affairs in the Muslim world where much if it is run like how the fascist did. Can I or you or anyone really want to be part of this? I do not and I will never be. Why I left Islam is clear and wll became more so. No self-respecting person will want to be part of a false religion, perpetuated by corrupt regimes who had no respect for democracy, human rights, justice and the rule of law, an antithesis of what it claimed to represent.
That Islam is a false religion and that Muhammad, a self-proclaimed prophet, was just an ambitious 13th century imperialist bent on establishing his own empire, is evident for all to see. Only fools or those that chose to remain as fools will believe that his edicts, compiled later by his followers, into a Qur'an were some divine revelations given to us through him for our salvation.
I had lived a life under delusions for so long but now I am free. No one asked me or compelled me. It was my choice to be free. I have no inclinatons towards any religion though I may be predisposed towards the existence of a God.
Aku lahir di bagian Selatan Iran, di kota bernama Abadan, dari keluarga Muslim Shiah. Kakekku adalah seorang imam, dan dia punya 19 anak, dan 84 cucu. Dia tentunya harus memilih penggantinya untuk mengajar Islam bagi generasi penerus. Beberapa kali aku mengalami kecelakaan di mana aku seharusnya mati terbunuh, tapi aku selamat. Setiap kali kecelakaan hampir terjadi padaku, aku selalu melihat siluet bayangan manusia. Aku menyampaikan ini pada banyak orang secara terbuka. Kakekku mengira jiwa2 para pemimpin Islam terdahulu menjaga nyawa anak ini. Lalu kakek memberi perhatian penuh padaku dan mengajarkan semua hal tentang Islam. Aku lalu bergabung dengan Hezbollah dan menjadi tentara selama tiga tahun. Aku juga mempelajari Qur’an dengan rajinnya. Kakekku juga berpesan agar aku mengajarkan Islam pada kaum Kristen yang tersesat. Aku juga diharapkan untuk menjadi pemimpin spiritual keluarga kami di luar Iran. Aku ditangkap di Malaysia sewaktu membawa 30 passport palsu. Aku lalu dipenjara. Di penjara, aku lalu mulai mengajar tentang Islam dan memberitahu apa yang Muslim wajib lakukan terhadap Allah. Aku lakukan ini setiap hari, dan tentunya sholat lima kali sehari. Muslim Shia sholat tiga kali sehari, tapi karena aku ingin lebih dekat ke Allah, maka aku lakukan sholat lima waktu. Lalu di malam hari aku juga melakukan sholat tambahan. Aku terbiasa membaca Qur’an dari awal sampai akhir, dan ini kulakukan sekali setiap 10 hari. Dari Islam, aku pun punya kekuatan ghaib memanggil para jin. Dalam Islam, aku boleh bicara dengan mereka, bahkan tertulis bahwa Nabi Muhammad juga bicara pada para jin. Aku mampu berhubungan dengan para jin dan mendapat kekuatan dari mereka. Aku bisa mengucapkan doa2 bagi banyak orang. Jika ada yang disakiti, maka orang ini lalu datang padaku dan memintaku mengguna-guna orang yang menyakitinya. Seketika orang tersebut akan sakit dan mendapat kecelakaan. Sambil menutup mata, aku bisa memberitahu apa yang dilakukan orang itu di tempat lain. Semua ini membuatku ingin lebih sakti lagi. Karena itu, aku semedi lebih banyak lagi sambil melafalkan Qur’an. Suatu malam, aku sedang semedi sambil melafalkan ayat2 Qur’an. Ada ayat2 Qur’an yang bisa kau ucapkan berulangkali dan ayat2 ini tidak bermakna apapun, dan menjadi rahasia Qur’an. Saat itu seekor jin masuk ruangan dan dia jauh lebih berkuasa daripada diriku.
Afshin dicekik Setan sampai sekarat. Main jampi2 sama ayat2 Qur'an dan setan seeeh....
Aku sangat takut. Kugunakan semua senjata yang kudapat dari Islam, seperti misalnya: dalam nama Allah kuperintahkan kau pergi, Setan aku usir kamu, dll. Kugunakan semuanya, tapi tidak ada yang mempan. Saat itu aku sangat butuh pertolongan, karena rasanya jin itu mencekikku untuk mengambil nyawaku. Rasanya seperti sekarat hampir mati. Aku menjerit: Tuhan, tolong aku!! Seketika itu juga aku mendengar suara: “Mintalah sejelas seperti kau mendengar suaraku, katakan: dalam nama Tuhan Yesus.” Pada saat itu aku benar2 tidak berpikir lagi sedetik pun. Rasanya seperti sedang tenggelam, dan seseorang melemparkan tali padamu. Kau tidak akan mempersoalkan apa warna tali dan akan dengan cepat merenggut tali itu. Itulah yang lalu kulalukan. Kukatakan: “Yesus, jika Kau memang benar, tunjukkanlah DiriMu.” Sampai hari ini aku tidak tahu mengapa kukatakan hal itu. Mengapa aku tidak mengatakan: “Yesus, tolong aku.” Aku tidak tahu mengapa, tapi begitulah yang kuucapkan. Sebelum aku selesai mengucapkan kalimat itu, semuanya tiba2 kembali normal lagi. Ini bukanlah kejadian di mana aku beralih iman. Ini adalah saat dimulainya kebingunganku. Mengapa Yesus menolong seorang Muslim? Aku telah melakukan semua yang aku mampu lakukan untuk menjadi Muslim sejati. Aku telah berjuang di jalan Allah, dengan berani mati syahid berjalan di daerah beranjau. Pemerintah Iran merekrut Muslim yang mau bergabung dengan Fadayi atau orang yang berkorban nyawa seperti yang dinyatakan Qur’an. Aku juga ikut melakukan hukum gantung bagi para pidana. Aku telah melakukan segala hal yang kukira harus kulakukan melawan para kafir, Dan juga segala hal yang bisa dan harus kulakukan untuk menyampaikan keterangan tentang Allah kepada siapapun. Tapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Ini bukan karena aku merasa ragu akan Allah atau akan Islam. Aku sangat percaya tapi aku tidak tahu apa makna kejadian itu. Aku sangat bingung dan lalu aku mencoba melupakannya. Tapi pertanyaan mengapa Yesus menolong seorang Muslim tetap muncul dalam benakku. Aku percaya pada Muhammad sebagai nabi terakhir. Jika Islam agama yang sempurna, maka mengapa Yesus menolong aku? Aku merasa bingung selama dua minggu. Lalu aku mengambil keputusan untuk berdoa dan puasa dan langsung bertanya pada Tuhan untuk menunjukkan jalan yang benar. Aku ingat ayat2 Qur’an yang menyatakan ada banyak jalan menuju Allah. Tidak peduli dari sisi gunung mana kau mulai mendaki, akhirnya kau tetap akan tiba di puncak gunung. Kupikir mungkin inilah Tuhan yang sebenarnya. Atau mungkin juga Tuhan punya jalan tertentu bagiku dan Dia ingin aku mengikuti jalan itu. Kupikir aku tidak akan pernah tahu jawabannya, maka sebaiknya aku bertanya langsung padaNya. Lalu aku berdoa dan puasa. Dari lubuk hatiku yang terdalam, dengan segala kekuatanku, aku bertanya, “Tuhan, apakah yang Kau inginkan dariku?” “Jalan apakah yang Kau ingin aku ikuti?” Selama dua minggu, aku duduk di tempat yang sama. Aku berdoa dan berpuasa sebanyak-banyaknya. Aku jatuh tertidur di tempat itu, dan begitu aku bangun maka aku melanjutkan doa dan puasa terus-menerus pada Tuhan. Aku ingin tahu apa yang diinginkan Tuhan dariku. Setelah dua minggu berlalu, aku tetap tidak mendapatkan jawaban. Aku sangat kesal. Aku bertanya, “Apaan sih semuanya ini? Omong kosong belaka! Aku tidak akan pernah tahu apa yang Kau inginkan dariku. Aku bahkan tidak tahu apakah Tuhan itu benar2 ada. Aku telah membuang hidup dan waktuku sia2 untuk melakukan hal2 yang menyenangkan Allah, dan sekarang Dia membuat aku kebingungan.” Jika Allah itu memang Maha Besar dan tahu hati orang, maka Dia tentunya tahu bahwa aku mencintaiNya. Tidak ada masalah jika aku memanggilNya dengan nama apapun, sebab Dia tahu dalam hatiku aku mencintainya. Dan jika ini jadi masalah, maka aku bertanya padaNya selama dua minggu melalui doa dan puasa, tapi tidak ada jawaban apapun. Masa bodohlah! Aku akan berbuat sekehendak hatiku saja. Aku akan jalani jalanku sendiri. Aku akan lakukan hal yang menyenangkan diriku. Di saat itu juga aku merasakan kekuasaan Tuhan menimpaku. Dalam Islam, dosa terbesar yang tak terampunkan adalah meragukan Allah, ajaranNya, NabiNya… dan aku telah melakukan hal ini. Dalam Islam, kau diajari bahwa Allah tidak pernah mengunjungi manusia. Aku tahu bahwa meskipun dalam Islam, aku telah melakukan dosa tak terampunkan, Tuhan sekarang berada di kamarku. Aku berhadapan langsung dengan kesucianNya. Semua ini terjadi dalam waktu yang bersamaan. Kesucian Tuhan menyebabkan aku merasakan besarnya dosaku. Aku tahu, karena Tuhan Maha Adil, maka Dia harus membunuhku dan melenyapkan aku dari muka bumi karena aku sangat penuh dosa. Aku menangis karena aku benar2 tidak mau mati. Tapi aku tahu aku tidak berdaya. Dia begitu suci, sedangkan aku begitu keji. Karena itu aku lari ke ujung ruangan, aku angkat tanganku menutupi kepalaku dan aku menangis, “Tuhan, ampuni aku, ampuni aku, ampuni aku, ampuni aku..” Saat aku menangis, aku merasakan sentuhan pada pundakku dan suara, “Aku mengampunimu.” Di saat kalimat itu diucapkan, aku merasakan secara jasmaniah merasakan pengampunan. Aku tidak mengerti. Kita sering berkata, “Bismillah al rahman al rahim, dalam nama Tuhan yang Maha Pengampun dan Penyayang” tapi kita tidak pernah tahu apakah diri kita benar2 diampuni sampai di hari Kiamat. Inilah sebabnya tiada satu pun ayat Qur’an yang menyatakan Muhammad ada di surga. Sama seperti orang lain, dia pun harus menunggu sampai hari Kiamat. Di saat itu, semua orang akan dihakimi. Jadi, siapakah Tuhan ini yang mengatakan, “Aku mengampunimu”? Aku benar2 merasa diampuni saat ini. Aku bertanya padaNya, “Siapakah kamu?” Dia berkata, “Aku adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.” Di saat aku mendengar itu, aku tahu kalimat ini sungguh penting, tapi aku tidak tahu sama sekali apa artinya itu. Aku tetap tidak tahu siapakah Tuhan ini. Maka aku bertanya padaNya, “Siapakah namaMu?” Dia menjawab, “Yesus Kristus, Tuhan yang Hidup.” Di saat Dia mengucapkan kata2 itu, rasanya setiap tulang dalam tubuhku diambil ke luar. Aku tersungkur ke lantai. Aku mulai menangis tersedu-sedu di hadapan Tuhan.
Afshin menangis terharu dan juga marah karena tertipu Muhammad.
Delapan belas tahun telah berlalu, tapi aku tidak pernah lupa KasihNya, PengampunanNya. Aku tidak pernah lupa apa yang terjadi pada diriku hari itu. Aku diampuni. Aku merasakannya. Aku menangis karena bertahun-tahun aku berusaha menyenangkan Tuhan, tapi itu semua sia2. Aku berdoa pada Tuhan, tapi aku tidak mendapatkan apa2. Aku merasa sangat tertipu karena mereka mengatakan inilah Tuhan, mereka katakan padaku untuk bunuh orang di jalan Allah. Tapi kemudian Tuhan mengatakan, “Kasihilah orang di jalanKu, maafkanlah orang di jalanKu.” Aku sungguh yakin, ya inilah Tuhan. Tuhan mengajarkan kasih, pengampunan. Aku menangis selama dua jam. Aku bersujud di hadapan kakinya. Dia lalu berkata, “Tengok ke atas.” Aku lalu mengengok ke atas dan menyaksikan penglihatan bagaikan di layar TV dan di situ tampak orang2 dari berbagai usia dan negara. Pada setiap orang yang kulihat, aku bisa mengetahui setiap dosa yang mereka lakukan. Semua itu sungguh luar biasa bagiku. Kukatakan pada Tuhan, “Tuhan, aku hidup diantara orang2 ini. Semua orang ini adalah orang2 berdosa.” Tuhan berkata, “Bagaimanakah mudahnya bagiKu untuk mengampunimu?” Kujawab, “Sangat mudah. Dalam bahasa Parsi, kami mengatakan ‘semudah minum air.’” Setelah mengucapkan itu, aku berkata, “Tidak, tidak. Bahkan lebih mudah daripada minum air.” Dia berkata, “Semudah aku mengampunimu, aku pun dapat mengampuni mereka. Siapakah yang akan memberitahu mereka?” Aku berkata, “Kirim aku, Tuhan.” Dia menjawab, “Pergilah.” Begitulah kisahnya bagaimana aku menjadi orang Kristen. Lalu aku berdoa, Tuhan, mohon kirim aku Alkitab… Injil. Seseorang datang dari ruangan lain dan menyerahkan buku padaku dan berkata, “Inilah yang kau minta.” Aku menguasai bahasa Urdu dan Hindi, sehingga aku tahu buku itu adalah Alkitab. Aku berkata pada Tuhan, “Ya Tuhan, aku berdoa malam lalu, dan sekarang pagi ini kau beri yang kuminta. Kau sungguh hebat. Benar2 Tuhan yang Maha Kuasa. Kau memberikan apa yang kubutuhkan dengan cepatnya.” Dialah Firman Tuhan yang Hidup. Aku membagi kesaksianku agar orang2 mendengar tentang Tuhan yang Maha Kuasa ini. Aku tidak berharap siapapun jadi Kristen hanya karena kesaksianku. Kesaksianku ini hanya berguna bagi diriku saja. Aku ingin orang2 mengerti: Ini adalah kisah tentang Tuhan yang Maha Kuasa, yang Maha Mampu, yang mencari hati2 yang haus kebenaran. Inilah Tuhan yang mengasihi seluruh umat manusia dengan segala kekuatan dan kekuasaanNya. Jika ada yang mendengar kesaksianku saat ini, aku ingin mereka berkata, “Baiklah, Tuhan Surgawi, pencipta segalanya, jika kesaksian ini benar, aku juga ingin mendapatkannya.” Aku jamin bahwa Tuhan yang Maha Kuasa yang datang, menyentuh, dan mengubah hidupku, yang mengampuni dosaku sepenuhnya, yang menjamin aku akan tinggal bersamaNya di surga, Dia pun bisa memberimu jaminan yang sama, pengampunan yang sama, kasih yang sama. Itulah Yesus Kristus. Dipermuliakanlah Dia. Sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Ini pesanku bagi para Muslim dan Muslimah. Aku tahu mereka bertanya: “Apakah Yesus Kristus itu adalah Tuhan?” Dapatkah manusia biasa jadi Tuhan? Tentu saja tidak. Tidak ada orang biasa yang sanggup jadi Tuhan. Tapi bahkan sewaktu dulu masih menjadi Muslim, aku percaya bahwa Tuhan yang Maha Kuasa yang sanggup berbuat apapun, mampu mewujudkan diriNya dalam tubuh manusia. Ya, Dia bisa. Sebagai orang Kristen, kita tidak berkata bahwa Yesus Kristus adalah Anak Tuhan, karena Tuhan punya anak (seperti manusia punya anak). Bukan begitu. Yang benar adalah Tuhan mewujudkan diriNya dalam tubuh Yesus Kristus pada seluruh umat manusia
Ternyata para anti islam terus membesar. Setelah faithfreedom.org, SIOE (perkumpulan para muslim yg murtad), sekarang muncul MAI (Metal Agaisnt Islamism).
Betapa mengagetkan. Sebegitu parahnya rupanya mahasiswa/i muslim di Jepang. Aneh. Kalau mereka tidak boleh berbaur spt itu, kenapa sekolah ke Jepang? Kenapa tidak sekolah ke Saudi Arabia saja?
Kulihat juga di blognya si penulis, spt nya tidak mempunyai teman non muslim. Semua temannya berjilbab. Dan dari tulisannya bisa saya simpulkan: kalau muslimah ini lesbian juga (bersayang-sayangan dgn sesama muslimah lainnya), dan sudah bener2 muslim sejati...tingkat FPI & MUI. Kurasa, mungkin anaknya nanti bisa dikirim ke jihad high school di Pakistan, utk memerangi non moslem.
Ini isi dari artikel tsb:
Ied Mubarak, Bukan Merry Christ.... Rabu, 12 Desember 2007 - Sorotan Oleh : Lizsa Anggraeny*
Memasuki bulan November-Desember, di setiap pusat belanja ataupun pertokoan Jepang, ada satu ciri khas yang mencolok mata. Hiasan pernak-pernik Natal mulai terpasang di setiap sudut pertokoan. Entah itu pohon natal, patung sinterklas, lonceng, sampai pita yag berwarna-warni. Mayoritas penduduk Jepang bukanlah penganut agama kristiani, namun gaya hidup mengikuti arus merayakan Eve Night ataupun berpesta saling bertukar kado di hari Natal begitu tarasa sangat kuat.
Pun ketika saya berbelanja di salah satu pertokoan. Gaung lagu-lagu Natal terdengar di setiap penjuru, pernak-pernik hiasan terpasang di setiap sudut dan saya pun terpaksa harus menolak plastik belanja yang diberikan kasir setelah selesai pembayaran karena bertuliskan 'Merry Christmas.' Ada pula satu peristiwa lain yang tidak bisa dilupakan sesaat setelah beranjak dari tempat kasir ini. Ketika dari arah depan, terasa kaki ditubruk oleh seorang anak kecil. Terlihat kepalanya memakai topi ala sinterklas dengan tangan kecilnya memegang sesuatu.
"Gomennasai... (Maaf...)" Tiba-tiba seorang ibu muda dengan berwajah cemas berlari mendatangi. Wajah Asia Tenggara sangat khas melekat pada gurat wajahnya.
"Indonesia? Malaysia?" ujarnya melanjutkan bertanya ke arah saya yang memiliki tipikal wajah sama. "Oh sama dong, saya juga Indonesia. Orang Islam juga loh....!" ujarnya terlihat gembira ketika mengetahui satu negara dan melihat pakaian tertutup saya.
"Mama mite, kore kawaii, katte ii...?" (Mama lihat, ini bagus, boleh dibeli...?)" Terdengar suara anak kecil tadi melirik ke arah perempuan di depan saya, sambil mengacungkan tangannya yang memegang lampu Natal. Perempuan yang ternyata ibunya mengangguk, tanda setuju.
"Loh...? Kok boleh sih Mbak? Itu kan hiasan Natal!" Cukup kaget saya bertanya pada perempuan tersebut.
"Nggak apa-apa, masih anak kecil, lagian dibeli buat tukeran kado tanggal 25," ujarnya santai tanpa merasa bersalah. "Cuma setahun sekali kan? Yuk ah, sampai ketemu lagi, Merry Christmas...." ujarnya berlalu sambil melambaikan tangan tersenyum.
Deg! Rasanya dada bagai teriris mendengar kata-kata perempuan tersebut. Mencoba menghibur diri, pasti telinga ini salah mendengar. Namun entahlah, semakin berusaha menghibur diri, semakin terasa penyesalan dibarengi rasa sedih. Kemana kebanggan diri sebagai muslim? Begitu santainya mengikuti perayaan dari aqidah yang berbeda.
Tiba-tiba pikiran saya meloncat pada seorang sahabat. Beberapa hari yang lalu, kami membahas hangat tentang alasan tidak bolehnya mengikuti acara tukar menukar kado di hari Natal, meski diadakan oleh orang Jepang yang bukan penganut Kristiani. Sebagai muslim, sahabat saya dan beberapa teman lainnya berencana mengikuti undangan acara tukar kado tanggal 25 Desember dengan ucapan khas "Merry Christmas...." Rupanya, gempita Natal tidak hanya merasuki orang Jepang yang notabene beraliran shinto, tapi juga mulai merasuki pemikiran beberapa orang Indonesia muslim yang tinggal di Jepang, entah karena tidak tahu atapun ghazwul fikri terbawa arus pergaulan.
Kenapa sebagai muslim harus terpengaruh dalam gegap Natal? Bukankah sebagai muslim kita juga memiliki hari raya yang pantas dibanggakan, seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah Saw :"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau bersabda : "Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu : Hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri". (HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i)
Hari Raya kurban atau Idul Adha tahun ini, perayaannya pun jatuh di pertengahan bulan Desember. Begitu gempitakah kita sebagai muslim - khusunya yang tinggal di Jepang - menyambutnya? Kado apa yang sudah disiapkan untuk menyambutnya? Sudahkah kisah Idul Adha tertanam kuat pada anak-anak kita, generasi muslim?
Hari raya yang di dalamnya memiliki ruh 'heroik' pengorbanan seorang anak shaleh bernama Ismail. Ketika perintah Allah Swt melalui mimpi datang pada sang ayah -Nabi Ibrahim As - untuk menyembelihnya, tidak ada sedikitpun perasaan ciut dalam hatinya. Dengan tegas Ismail kecil berkata, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash Shaaffaat 102). Ucapan tegas dari seorang anak shaleh yang dipenuhi cinta Illahi. Tegakah seorang ayah menyembelih anak yang didamba setelah puluhan tahun? Tidak, bukan masalah tega atau tidak tega, namun disinilah keimanan nabi Ibrahim As terbukti. Beliau lebih memilih melaksanakan perintah Allah Swt, meski harus mengorbankan anak tercintanya. Hingga Allah Swt memberikan mujizat menggantikan Ismail kecil dengan seekor kambing sebagai sembelihan. "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". (QS. Ash Shaaffaat 107-109)
Idul Adha adalah hari raya kurban. Perayaannya tidak sekedar pesta tukar menukar kado. Namun memiliki esensi lebih dalam, perayaan berupa menebar rasa empati, ikut berkurban atas sapi ataupun kambing sembelihan. Yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh hanya satu dua orang saja, tapi dirasakan oleh sebagian besar fakir miskin ataupun kaum duafa di seluruh dunia.
Sudah saatnya seorang muslim di manapun mulai menggaungkan kemuliaan hari raya sendiri, tanpa perlu mengikuti arus perayaan hari raya aqidah lain. Perayaan dengan mengisi rapat shaf-shaf shalat sunah di hari raya dengan khusyu, lalu berkurban ataupun membagikan zakat fitrah. Melatih menanamkan ruh kebanggaan dan kebahagiaan menyambut Ied pada anak-anak sebagai generasi penerus izzah Islam. Betapa bangga rasanya jika suatu saat meriahnya Hari Raya Islam menggaung di seluruh dunia, termasuk negeri sakura.
Ucapkan Eid Mubarak, bukan Merry Christmas....
*Penulis adalah ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Jepang
Well..saya benar2 terkejut membaca artikel ini dimana seorang indonesia muslimah ternyata berpikiran picik seperti ini.
Entah kalau dia punya sahabat non muslim khususnya yang Kristen. Bagaimana yah perasaannya. Dan kutebak biasanya umat Kristen pemaaf. Untung.
Saya mendapatkan dari teman saya "Fox" (thanks Fox). Dan ini katanya sbg jawaban dari film Fitna ditujukan kpd Kristen Aneh banget. Non muslim selalu merujuk pada Kristen. tapi ndak apa deh. Dgn begini malah membuka kebodohan mereka. Hehehehe....
Ini filmnya:
Lucu kan? Filmnya koq jadi ANIMAL PLANET...?
Bukannya harusnya muslim itu marahnya sama mereka yang bermain di film tersebut?
Yang pake quran buat bertindak siape?
Yang bertindak begitu siape?
" Abu Ghraib, Guantanamo!"
" terkutuk USA & skeutunya!"
" Israel menyerang Palestina!"
" Death to Israel & Usa!"
" FITNA THE MOVIE!"
" DEATH TO WILDERS & CHRISTIAN!"
Loh...koq bukan yang ada di filmnya yang dikutuk ye???
Klinkert dan Leydecker (penerjemah Bibel ke dalam bahasa Indonesia yg mula-mula)tidak tahu bahwa nama "Allah" itu sebenarnya nama berhala sembahan Quraish Jahiliyah, mereka mengira nama itu seperti GOD-nya orang Barat atau GUSTI-nya orang Jawa, akhirnya dipakailah nama itu sebagai nama Elohim dan Theos dalam bahasa Indonesia.
Karena sudah membudaya, dan disebabkan oleh ketidaktahuan, maka saya tidak mempersoalkan hal ini. Asalkan nama "Allah" tidak dibaca sesuai dengan lafal aslinya, yaitu AUWO. Karena kalau "auwo" ini menunjuk pada nama berhala sembahan Arab Quraish.
Uniknya, orang Kristen di Indonesia ini memang tak ada yang membaca kata "Allah" itu dengan logat Arab, tapi sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia. Sementara orang-orang Islam tidak membaca kata itu sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar, mereka konsisten dengan lafal Arab-nya. Jadi, ini memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa, untuk membedakan nama Tuhan dalam bahasa Indonesia dengan nama tuhannya orang Arab yg adalah berhala itu.
Kembali ke topik.
Kalau "Allah" dibaca Ala (atau Al-lah), maka ini Tuhan yang Esa. Kalau "Allah" dibaca auwo, maka ini berhala yang at-tauhid/tunggal.
Tauhid dengan Esa itu sebenarnya berbeda, tapi oleh Muhammad disalahartikan, dan disamakan begitu saja oleh karena ketidakpahaman Muhammad akan hakikat dari Keesaan Tuhan.
Esa itu bahasa Ibraninya adalah 'echad (axd). Tauhid itu bahasa Ibraninya adalah yachiyd (yxyd).
Kata esa digunakan pada ayat berikut:
Kejadian 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Jadi, 'echad / esa bukan satu secara bendawi, melainkan secara maknawi. Dua orang, laki-laki dan perempuan, bersatu menjalin rumah tangga, disebut ESA.
Sementara kata tauhid/tunggal digunakan pada ayat berikut:
Kejadian 22:2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
Jadi, yachiyd / tauhid / tunggal artinya satu secara bendawi, satu secara entitas, satu secara kasat mata, ibarat sebiji, sebuah, sebutir, atau sebatang.
Tauhid itu nampak, sementara Esa itu tidak nampak.
Tauhid bisa dilihat kasat mata dan diamati dengan mata telanjang secara kebendaan. Seperti berhala awloh yang dijadikan satu-satunya di dalam Kaabah sesudah 359 berhala lainnya dimusnahkan. Semua orang bisa menyaksikan bahwa awloh itu "satu". Jadi, tauhid itu bisa dilihat dengan mata telanjang, sebagai sosok yg satu-satunya/tunggal.
Sedangkan Esa tidak bisa diamati dengan mata telanjang, sehingga kita bisa berkata: "Itu, lihat, wujud Tuhan yang Esa." Melihat keesaan Tuhan ibarat kita melihat ANGIN, yg bisa berada di mana-mana dan memecah ke segala arah tapi tetap satu, yaitu ANGIN. Tuhan bisa berada di banyak tempat dalam waktu yang bersamaan. Itulah kenapa, ketika Kristus di bumi dan Bapa di langit, bisa saling menyapa.
Gambaran lain untuk menjelaskan kata Esa: Sebuah rumah tangga/keluarga adalah ESA. Jelas keluarga yang saya katakan ESA / satu ini tidak bisa dilihat secara kasat mata sebagai SATU DAGING atau SATU TUBUH, karena jelas di dalam keluarga terdapat beberapa entitas/pribadi (ada ayah, ibu, dan anak-anak). Meski sang ayah pergi ke kantor sementara ibu berada di pasar, tetap saja keluarga tersebut disebut ESA. Jadi, hakikat ESA itu adalah SATU secara maknawi.
Sekali lagi, tauhid itu nampak dan bisa disaksikan dengan mata telanjang sehingga orang bisa menunjuk ke arah benda yang di-tauhid-kan itu, semisal dengan perkataan, "Lihat, itulah satu-satunya, yang tunggal, tidak ada yang lain" sama seperti ketika Muhammad menunjuk Awlohnya sebagai Hajar Aswad. Semua orang pun juga bisa melihatnya dan mengiyakan bahwa benar benda itu adalah satu-satunya, tunggal, sebab 359 berhala yang lain telah dihancurkan.
Bagaimana kita membandingkan Awloh yg tauhid itu dengan Tuhan yg Esa?
Ibarat awloh itu adalah sebatang lidi, maka TUHAN itu ratusan, ribuan, jutaan, milyaran dan tak terhingga lidi sebagai satu kesatuan dan menempati segala ruang yang ada di alam semesta ini.
Atau, ibarat awloh itu sebuah batu, maka TUHAN itu ratusan, ribuan, jutaan, milyaran dan tak terhingga batu sebagai satu kesatuan dan menempati segala ruang yang ada di alam semesta ini.
Nah, akhirnya terasa, bukan? Bahwa awloh itu begitu tidak berdaya, begitu terbatas dan tidak maha kuasa? Karena dia cuma sebuah benda, dan terikat oleh ketunggalannya.
Ini sekedar penjelasan panjang lebar tentang perbedaan makna kata ESA ('echad) dengan TAUHID (yachiyd).
Muhammad rancu karena telah menyamakan begitu saja kata Esa dengan Tauhid.
AKU TU HERAN ...KNAPA KALIAN MERENDAHKAN SEMBAHAN KALIAN DENGAN LUKISAN/PATUNG YESUS .....!!!! JANGAN2 YANG KALIAN GAMBAR LEBIH BURUK DARIPADA ASLINYA ...!!!!!! :: KRISTEN MENJAWAB :: AHHH ITU KAN TUKANG GAMBAR BIAR UNTUK MAKAN DIA ...ASTAGAAA KANAPA KALIAN MEMBIARKAN HINAAN SPERTI ITU ????? KALIAN EMNG TAK PUNYA HATI MALAH MEMBIARKAN TUHAN KALIAN DI LECEHKAN N!!!! INI SIH BUKAN TAPAR PIPI KIRI KANAN TAPI KALIAN SUDAH BUNUH DIRI SENDIRI XIXIXIXXIIXIIXIIXIIIIII
TUNJUKKAN LAH KALO BISA KEBENARAN KITABMU ..... KALO BISA !!!!! KALIAN PASTI SAKIT SENDIRI KARENA KITAB YANG KALIAN PEGANG PENUH BELATUNG,KELICIKAN,PENGKIANATAN,ROMANTISME PADA TUHAN,CABUL KALO MAU BERCINTA ( LIHAT KIDUNG 7 )....!!!!!
kalian kristen emang tolol ......di bodohi paulus tarsus mau aja ..... dia menghianati firman yesus ..tapi kalian malah menjalankan firman paulus ...dasar tolol ...otak singkong ...... kok diam aja kayak kambing congek ......carilah kebenaran .....jujur dalam hati pasti kalian bingung dgn kitab kalian makanya kalian ndak pahami ndak dicerna ..karena selesai dari greja alkitab kalian jadikan pajangan ................ !!!!!!!!! AKU MUALAF BERTAUBAT MENDUAKAN TUHAN !!!!!!!!!! SEMBAHLAH ALAH BAPA SAJA KARENA YESUS ADALAH UTUSAN .....KALO KALIAN INGIN SEMPURNA MENJALANKAN PRINTAH YESUS 100% JALAN SATU2NYA MASUK ISLAM ...... NIKMATI KEDAMAIAN DIDALAMNYA !!!! PERTAMA SAYA MENYADARI TERNYATA SELAMA INI AKU SALAH MAKA SETELAH BERSUJUD ( SEPERTI YESUS JUGA BERSUJUD)) AKU MENANGIS BAHAGIA KARENA MENEMUKAN TUHAN YANG MAHA AGUNG YANG TAK BISA TERLUKISKAN OLEH APAPUN CIPTAANYA ( LIHAT 10 PRINTAH ALAH NO 2 )...... JIKA SEKARANG ADA YANG MAU NGAJAK SAYA MASUK KRISTEN LEBIH BAIK AKU DI BUNUH....KARENA AJARAN KRISTEN SALAH KAPRAH PRAH PRAH...PARAHHH .......
kalian kristen memang bodoh ....pake otak dong ??? masak ditipu paulus licik mentah2 mau aja ...dasar kambing congek..... carilah maka kalian mendapat hidayah .....ketuklah maka akan kubuka..... kalian kristen pengkianat yesus .....aku juga mualaf ...aku sudah bertobat menduakan tuhan .... wahai kalian kristen pengikut paulus kalian pasti celaka. karena tidak menjalankan hukum taurat seperti yang yesus firmankan .....!!!!!
kalian yesus sembahan kalin kok di gambar itu kan melecehkan sembahan kalian sendiri bodoh !!! jangan2 yesus lebih ganteng dari itu !!!! duhh kalian dinginkan kepala segera belajar islam nikmati kedamaian didalamnya !!!!!.... jangan biarkan ketololanmu menjadi jajahan ayat sesat paulus tarsus pengkianat ...!!!!!
kalo ndak puas bisa telp saya 085292876785 / email:: faruck_1@yahoo.co.id
Let's say to Him.. "I want to know You and the power of Your resurrection and the fellowship of sharing, and becoming loke You in Your death" - (Phil.3:10)
Slamat Paskah, dear bros & sis... GBU
SAYA JUGA MAU PERTANYAAN SAYA DIJAWAB SAMA KRISTEN TOLOL APAKAN ORANG KRISTEN PERCAYA ADANYA SURGA DAN NERAKA? APAKAH ORANG KRISTEN SUDAH MELIHAT SURGA DAN NERAKA?...kalo sudah, ada dimana letaknya, naik mikrolet bisa ga? KALO GA BISA JAWAB, JANGAN PILIH KRISTEN MEREKA ITU TOLOL
Agama itu gk penting bwt diributin..Iblis gk perlu jd bahan dusta dr kemunafikan kalian umat manusia..kebenaran cma ada d gw..cukup sujud d kaki gw..setelahnya gw ksh kebenaran dan kenyataan yg sebenarnya..Selama ini sesuatu yg loe anggap BENAR itu SALAH BESAR..dan sesuatu yg selama ini loe anggap SALAH BESAR itu adlah KEBUSUKKAN..karena tanpa kalian sadari kalian telah memuja PENGUASA sebagai KEBENARAN bkn KEBENARAN yg BERKUASA..!!!!!!
KRESETAN...UMAT KORBAN PEMBODOHAN DARI PAULUS....HARI GINI MASIH MENGAKUI KRESETAN NOH LIHAT DI LUAR NEGRI ORANG BERDUYUN-DUYUN KAMPANYE UNTUK MENJADI ATHEIST...
The New Catholic Encyclopedia Bearing the Nihil Obstat dan imprimatur Bahwa di situ tertulis bahwa sebelumnya konsep trinitas tidak di kenal dalam ke kristenan..
Dalam The New Catholic Encyclopedia,Volume XIV
Bahwa Yesus, Yohanes, Matius, Lukas, Markus,tidak menyadari sepenuhnya dengan dogma trinitas..
Arius mengatakan bahwa anak itu berbeda dengan ayahnya maka mustahil yesus itu adalah Allah(tuhan yang menjelma)
Karena dalam hal ini Kristen telah bergeser kedudukannya sampai masuk pola pikir helenistik yunani/roma…maka terlahirlah dalam siding Council of Nicea ada beberapa perjanjian :
1.Natal di tetapkan tanggal 25
2.Mereka pindahkan hari kesucian sabath menjadi Minggu.. atau di sebut Dies Soli dimana waktu itu adopsi dari kebudayaan bangsa roma untuk dewa matahari dan dewa Apolo
3.Pergantian symbol Kristen dari lambing ikan menjadi cross(salib)
4.dan lahirnya Homoisius…(3 Substansi)
Lihat dalam sejarah bahwa dalam konsili tersebut tatanan ke kristenan berubah menjadi urusan politik…kita lihat siapa yang tidak menyepakati dalam consili tersebut maka di bunuh seperti missal arius yang tewas di racun dan dibunuh oleh para Trinitarian Uskup, Athanasius , pada tahun 336 (apakah ada kepentingan politik….???tanya kenapa…???) dan setelah itu meningkat dalam pola pikir mitologi yunani…
Bahwa konsep trinitas banyak di adopsi dari kaum pagan…
1.pada zaman Ramses II , sebagai pengadopsi dogma Amon-Ra, dan Nut
2.Mesir dalam trinitas pagannya yang di kenal sebagai pagan Horus , Osiris ,Dan Isis.
3. pada zaman Palmyra yang di adopsi dari pagan dewa bulan
4. pada zaman Babylon Ishtar yang di adopsi pagan shamash
5. Buddha Mahayana yang menyatakan konsep sama yaitu : transformasi tubuh, kenikmatan badan, dan kebenaran tubuh.
6. Hindu dalam ajarannya trimurti yang mengajarkan konsep sama Brahma ,Wisnu , dan siva
Namun perbedaannya bahwa konsep trinitas yang di ambil kaum helenistik yunani diambil dalam konsep filsafat plato bahwa dalam filsafatnya Plato mengatakan
Adanya 3 unsur :
1. First Cause 2. Logos 3. soul
apakah kesepakatan trinitas itu di sepakati oleh Kristen sendiri….??
Tentu saja tidak
Lihat sejarah consili Ephesus dalam (thn 431), dan consili Chalcedone dalam tahun (451)
Bahwa formulasi trinitas telah di tolak dalam consili consili Ephesus dalam (thn 431), dan consili Chalcedone dalam tahun (451)
Dalam buku Fall of the Roman Empire
Di sebutkan system pola pikir pagan(mitologi yunani) yaitu dengan ciri dewa yang berinkarnasi..
Didalam keyakinan hindu missal,bahwa dewa wisnu yang dapat mengganti atau menjelma menjadi 9 inkarnasi..
Sama halnya dengan pola pikir mitologi yunani kuno bahwa tuhan yang menjelma menjadi manusia
Dan dalam buku tersebut tertulis Gibbon menyatakan bahwa sudah sepantasnya resmi bahwa Alkitab harus" diperbaiki "dan" jelas sehingga pembaca dapat melihat dengan jelas…
Kita Lihat 3 hal yang membentuk dogma-dogma di dalam kristen :
1. Institusionalisasi agama. Ketika agama yang sifatnya personal, antara seorang manusia dengan Tuhannya, dijadikan institusi, maka terjadilah penyeragaman pengalaman iman. Muncullah golongan agamawan dan golongan awam.Akibatnya, kebenaran menjadi milik institusi dan golongan agamawan sehingga pengalaman iman personal diabaikan.
2. Kepentingan politis. Ketika institusi agama, bergandengan tangan dengan kekuasaan politik, muncullah kompromi-kompromi yang mengubah corak agama tersebut dan mencabutnya dari akar awal bertumbuhnya agama.(lihat konsili nicea,pertama konsili tersebut pada awalnya bukan untuk membicarakan agama melainkan politik,apakah ada makna politik di balik ajaran dogma kristen)
3. Penguatan tradisi baru. Institusi agama yang sudah mapan, cenderung menciptakan tradisi untuk memperkuat posisi institusi agama itu sendiri. Akhirnya, muncullah tradisi-tradisi yang kemudian di-klaim sebagai "satu-satunya kebenaran". Mestinya tradisi (syariat, tata cara) tidak boleh mengalahkan inti kebenaran (hakikat).
seperti dogma trinitas,Dogma ibadah pada hari minggu,Dogma "tidak ada keselamatan di luar gereja" (extra ecclesiam nulla salus)..dan dogma-dogma yang lain....yang masih banyak
Menurut kamus yunani, kata dogma berarti : pendapat,asas, keputusan,peraturan (kamus yunani-belanda,F.muller Jzn-J.h.Thiel).
Lalu bagaimana kedudukannya lebih tinggi mana dogma dengan firman tuhan....sebab jika di lihat,christian lebih condong kepada dogma-dogma tersebut bukan kepada alkitab(yang firman tuhan itu sendiri kepada yesus).
Misal saja :
-Yesus menyuruh hanya menyembah Allah/YAHWEH yang esa, yesus mengatakan שמע ישראל יהוה אלהינו יהוה אחד-Shema Yisrael Adonai Eloheinu Echad -(Dengarlah wahai ISrael bahwasanya Tuhan Allah itu esa(satu).)
esa maka mustahil berbilang,maka dogma mengatakan tuhan itu 1=3 tapi tidak ada satupun dalam alkitab tentang trinitas tersebut,sebaliknya dogma trinitas hanya perkataan seorang Walaupun Tertulianus (165M-220M) "Trinity" (Tritunggal) dan memformulasikan doktrin tersebut....
1.Konsep Homo-ousius atau di sebut trinitas
Reverend Dr. Charles Francis Potter dalam bukunya The Lost Year of Yesus Revealed, 1992, hal 16, menjelaskan: "Few believing Christians yet realize (for few scholar are yet adminitting) how many important doctrines are doe to be change radically, and how many others should eventually be eliminated when the Scroll are properly recognized and evaluated in relation to the New Testament. The very vulnerable doctrine of the Holly Spirit will have to go, as we shall see, and will take with it inevitably the doctrine of the Trinity, which was never in the Bible anyway".
TERJEMAH :
(Hanya sedikit pemeluk agama Kristen yang hingga saat ini menyadari (sebagaimana hanya sedikit para ilmuwan yang hingga saat ini mau mengakui), betapa banyak ajaran dasar agama Kristen yang harus dirubah secara radikal dan beberapa banyak lainnya yang harus di singkirkan (dari Alkitab) bila Naskah (Laut mati) diakui dan dipelajari dengan benar dalam hubungannya dengan Kitab Perjanjian Baru. Ajaran yang paling lemah dan harus di singkirkan adalah tentang Roh Kudus, sebagaimana yang terlihat (dalam Naskah Laut Mati), dan tanpa bisa dihindari, ajaran tentang Trinitas harus pula ikut tersingkir, karena sama sekali tidak pernah diajarkan dalam Alkitab)
Athanasius, dalam buku The Decline and Fall of the Roman Empire yang ditulis oleh Edward Gibbon:
"Christian Theologian, the great Athanasius himself, has candidly confessed that whenever he forced his understanding to mediate on the divinity of the Logos, his toilsome and unavailing efforts recoiled on themselves; that the more he thought, the less he comprehend; and the more he wrote, the less capable was he expressing his thought".
(Teolog besar Kristen Athanasius sendiri secara terbuka mengakui bahwa semakin dia memaksakan pengertiannya untuk menjelaskan ketuhanan Logos (Firman), segala daya dan upaya yang diusahakannya kandas dengan sendirinya; bahwa semakin dia berfikir, semakin dia kurang memahami; semakin banyak penulis, semakin kurang kemampuan menjelaskan jalan pikirannya).
Monsignor Eugene Clark mengakui konsep Trinitas sulit dimengerti. God is one, God is three. Since there is nothing like this in creation, we cannot understand it, but anly accept it"
(Tuhan itu satu, Tuhan itu tiga. Karena tidak ada yang seperti ini di alam ini, sehingga kita terima saja walaupun kita tidak mengerti).
dapat di simpulkan dogma trinitas tersebut sulit dipahami dan irasional,jika kita telaah pendapat-pendapat dan perkataan theolog-theolog di atas.....bahkan petinggi vatikan pun sulit untuk memahami trinitas.....
dogma ke 2
-Dogma ibadah pada hari minggu,Doma tersebut yessus tidak pernah mengajarkan untuk mensucikan hari minggu tetapi hari sabath...
dogma ke 3
"tidak ada keselamatan di luar gereja" (extra ecclesiam nulla salus)"
Yesus mengatakan "ada dombaku di kandang lain"
sebenarnya masih banyak lagi dogma-dogma yang yessus tidak pernah ajarkan....
Lebih baik cari pekerjaan yg benar dan halal. Daripada rajin update blog yg isinya memprovokasi umat beragama. Jangan terlalu percaya diri lah, Anda tidak mendapat jaminan masuk surga/ tidak masuk neraka jg kok. :)
Cerdas sedikit lah. Saling menghormati dan menghargai. Junjung kemanusiaan di atas segala2nya.